⬅ Kembali ke List

Fenomena Doomscrolling: Kenapa Otak Kita Suka Berita Buruk?

Oleh Tim Riset HahPeta · 14 Januari 2024

Abstrak: Pernah gak sih niatnya cuma cek jam, eh malah kebablasan scroll berita bencana sampai jam 3 pagi? Fenomena ini disebut Doomscrolling. Artikel ini membedah mekanisme otak di balik kebiasaan tersebut.

1. Pendahuluan: Jebakan Evolusi

Secara evolusi, otak manusia dirancang untuk bertahan hidup, bukan untuk bahagia. Nenek moyang kita lebih perlu tahu "di mana ada singa" (berita buruk) daripada "di mana ada bunga indah" (berita bagus).

Psikolog kognitif menyebut ini sebagai Negativity Bias.

2. Data Lapangan

Kami melakukan survei kecil terhadap 50 responden Gen-Z mengenai platform pemicu kecemasan tertinggi. Berikut hasilnya:

Platform Rata-rata Durasi (Jam/Hari) Tingkat Kecemasan (Skala 1-10)
TikTok 3.5 Jam 8.2
Twitter/X 2.0 Jam 9.1
Instagram 1.5 Jam 6.5
LinkedIn 0.5 Jam 9.5 (Karir Panic)

Tabel 1: Korelasi antara platform dan tingkat kecemasan subjektif.

3. Mekanisme Dopamin

Kenapa kita gak bisa berhenti? Karena Variable Reward System.

"If you are not paying for the product, then you are the product." — The Social Dilemma

4. Kesimpulan & Solusi

Doomscrolling memberikan ilusi "kendali" (seolah-olah dengan tahu banyak info buruk, kita jadi siap), padahal itu cuma membakar energi mental.

Saran Navigasi:

  1. Matikan notifikasi berita sela (Breaking News).
  2. Set timer aplikasi (Digital Wellbeing).
  3. Validasi emosi sebelum share.

Referensi: